Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karakteristik Pendidikan Inklusif Tentang Kesulitan Belajar Peserta Didik

Kesulitan belajar merupakan permasalahan yang kerap terjadi pada peserta didik di sekolah umum dan sering di sebut dengan anak berkebutuhan khusus (ABK).

Apa Itu Kesulitan Belajar? berikut ini jamboguru akan membahas tentang pengertian, bentuk, jenis dan ciri-ciri Kesulitan Belajar Peserta didik.

Pengertian Kesulitan Belajar


Pengertian Kesulitan Belajar 

Fenomena kesulitan belajar merupakan hal yang lumrah terjadi baik pada anak-anak, remaja, orang dewasa, orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. 

Secara umum kesulitan belajar merujuk pada ketidak mampuan seseorang untuk melakukan belajar, sehingga hasil belajarnya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Di lingkungan persekolahan, kesulitan belajar merupakan ketidakmampuan anak atau siswa untuk belajar, termasuk menghindari belajar, sehingga prestasi belajar yang dicapai tidak sesuai dengan kriteria standar yang telah ditetapkan atau bahkan gagal mencapai tujuan-tujuan pembelajarannya.

Ketidakmampuan ini disebabkan oleh gangguan-gangguan pada diri individu baik yang bersifat psikologis, fisiologis, anatomis, maupun sosiologis.


Bentuk Kesulitan Belajar

Ada dua bentuk kesulitan belajar, yaitu: 

(1) Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (developmental learning disabilities)

(2) Kesulitan belajar akademik (academik learning disabilities). 

Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan,  mencangkup gangguan motorik dan persepsi, kesulitan belajar bahasa dan komunikasi, dan kesulitan belajar dalam penyesuaian prilaku sosial. 

Kesulitan belajar akademik berhubungan dengan adanya kegagalan-kegagalan pencapaian prestasi akademik yang sesuai dengan kapasitas yang diharapkan. Kegagalankegagalan tersebut mencakup penguasaan keterampilan dalam membaca, menulis dan matematika. 


Jenis-Jenis Kesulitan Belajar.

Para ahli psikologi mengelompokkan jenis kesulitan belajar ke dalam lima kelompok, meskipun bata-batas dari setiap jenis tidak begitu jelas, ada yang tumpang tindih, namun ada perbedaannya. Ada lima jenis kesulitan belajar yang dikelompokkan oleh para akhli psikologi dengan latar belakang keilmuannya yang relative berbeda. 

Kelima jenis kesulitan belajar tersebut adalah: (1) learning disabilities, (2) slow learner, (3) underachiever, (4) Learning disfunction, dan (5) Learning Disorder.


1. Learning disabilities.

Learning disabilities (LD) adalah kondisi ketidakmampuan anak untuk belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajarnya dibawah potensi intelektualnya. 

Anak LD adalah individu yang mengalami gangguan dalam satu atau lebih proses psikologis dasar dan disfungsi sistem syarat pusat atau gangguan neurologis yang diwujudkan dalam kegagalan-kegagalan yang nyata. Kegagalan yang sering dialami oleh anak LD adalah dalam hal pemahaman, penggunaan pendengaran, berbicara, membaca, mengeja, berfikir, menulis, berhitung dan keterampilan sosial. 

Ciri-ciri learning disabilties: 

a) Daya ingatnya terbatas (relatifkurang baik), 

b) Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, 

c) lambat dalam mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya, 

d) bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika, 

e) kesulitan dalam mengurutkan angka secara benar,

f) sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingat,

g) sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas dengan tuntas, 

h) iImpulsif yaitu bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu, 

i) sulit berkonsentrasi,

j) sering melanggar aturan, 

k) tidak disiplin,

l) emosional,

m) menolak bersekolah, 

n) tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis, 

o) kacau dalam memahami hari dan waktu, 

p) kebingungan dalam membedakan. 


2. Underachiever.

Konsep underachiever lebih berhubungan dengan kemampuan yang dimiliki seseorang. Underachiever adalah anak yang berprestasi rendah dibandingkan tingkat kecerdasan dan atau bakat yang dimilikinya.

Underachiever identik dengan keterlambatan akademik yang berarti bahwa “keadaan siswa yang diperkirakan memiliki intelegensia dan keberbakatan yang cukup tinggi, tetapi tidak dapat memanfaatkannya secara optimal.”  


3. Slow learner.

Slow learner adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain padahal mereka memiliki tingkat potensi intelektual yang sama. 

Pada kasus peserta didik yang pandai musik mungkin dibidang lain ia ketinggalan, demikian juga yang pandai dibidang olah raga mungkin lemah dalam bidang yang lain, maka yang mempengaruhi kondisi tersebut adalah bakat yang ada pada peserta didik . 


4. Learning disfunction

Learning disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan oleh siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya sub-normalitas mental, gangguan alat indra, atau gangguan psikologis lainnya.

Contohnya, siswa yang memiliki postur yang tinggi, atletis,  kekuatan dan kecepatan sangat menonjol dibanding komponen fisik lainnya, dan dia sangat cocok untuk menjadi pelompat tinggi, namun karena tidak pernah dilatih keterampilan lompat tinggi, maka dia tidak memiliki prestasi lompat tinggi. 

Gangguan belajar ini berupa gejala proses belajar yang tidak berfungsi dengan baik karena adanya gangguan syaraf otak sehingga terjadinya gangguan pada salah satu tahap dalam proses belajarnya. Kondisi semacam ini mengganggu kelancaran proses belajar secara keseluruhan.  

Ciri-ciri perilaku nyata dari anak yang memiliki kesulitan belajar jenis Learning disfunction, antara lain: 

(1) hasil belajar yang rendah, dibawah rata-rata dan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, 

(2) lambat dalam melaksanakan tugas kegiatan belajar (akademik) dan perkembangan (development), 

(3) menunjukkan sikap (personality), tingkah laku, cara pikir dan gejala emosional yang kurang wajar dalam proses belajar, 

(4) tidak setara antara IQ dan prestasi atau antara prestasi kecakapan (kepandaian atau keterampilan) dengan hasil sempurna yang mestinya dicapai. 

(5) menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya, 

(6) menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti: pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. 


5. Learning Disorder

Kesulitan Belajar jenis Learning Disorder adalah suatu gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan untuk menerima, memproses, menganalisis atau menyimpan informasi. Anak dengan

Learning Disorder mungkin mempunyai tingkat intelegensia yang sama atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan teman sebayanya, tetapi sering berjuang untuk belajar secepat orang di sekitar mereka.

Masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan gangguan belajar yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, mengingat, penalaran, serta keterampilan motorik dan masalah dalam

matematika. Anak-anak dengan Learning Disorder yang tidak di terapi, akan mempengaruhi kepercayaan diri mereka. Mereka berusaha lebih dari pada teman-teman mereka, tetapi tidak mendapatkan pujian atau reward dari guru atau orang tua. 

Kesulitan belajar yang termasuk jenis Learning Disorder mencakup : 

(1) Disleksia (Dyslexia), 

yaitu gangguan belajar yang mempengaruhi membaca dan atau kemampuan menulis. Ini adalah cacat bahasa di mana seseorang memiliki kesulitan untuk memahami kata-kata tertulis,

(2) Diskalkulia (Dyscalculia),

 yaitu gangguan belajar yang mempengaruhi kemampuan matematika. Seseorang dengan diskalkulia sering mengalami kesulitan memecahkan masalah matematika dan menangkap konsep-konsep dasar aritmatika, 

(3) Disgrafia (Dysgraphia), 

yaitu ketidak mampuan dalam menulis, terlepas dari kemampuan untuk membaca. Orang dengan disgrafia sering berjuang dengan menulis bentuk surat atau tertulis dalam ruang yang didefinisikan. Hal ini juga bisa disertai dengan gangguan motorik halus, 

(4) Gangguan pendengaran dan proses visual (Auditory and visual processing disorders), 

yaitu gangguan belajar yang melibatkan gangguan sensorik. Meskipun  anak tersebut mungkin dapat melihat dan atau mendengar secara normal, gangguan ini menyulitkan mereka dari apa yang mereka lihat dan dengar. Mereka akan sering memiliki kesulitan dalam pemahaman bahasa, baik tertulis atau auditori (atau keduanya), 

(5) Ketidakmampuan belajar nonverbal (Nonverbal Learning Disabilities), 

yaitu gangguan belajar dalam masalah dengan visual-spasial, motorik, dan keterampilan organisasi. Umumnya mereka mengalami kesulitan dalam memahami komunikasi non verbal dan interaksi, yang dapat mengakibatkan masalah sosial. 

Sumber: Modul PKB KK I