Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Penelitian Tindakan Kelas / Classroom Action research - Pengertian, Tujuan dan Langkah Menyusun PTK

PTK

Penelitian tindakan kelas, classroom action research yang disingkat dengan PTK merupakan penelitian berdaur ulang yang dilaksanakan oleh guru atau pendidik untuk melakukan perbaikan terhadap pembelajaran berdasarkan masalah yang benar-benar dialami oleh peserta didik (Aries dan Haryono, 2012). 

Hasil penelitian ini sangat penting dan strategis untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran jika penelitian tersebut dilaksanakan secara baik dan benar sesuai dengan langkah-langkah PTK. 

Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, PTK tergolong penelitian kualitatif meskipun data yang dikumpulkan bersifat kuantitatif. Hal ini disebabkan uraian PTK berupa kata-kata, peneliti sebagai instrumen kunci, proses sama pentingnya dengan produk (Kunandar, 2013).     


Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan di dalam kelas menggunakan suatu tindakan untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar agar diperoleh hasil yang lebih baik dari sebelumnya. 

Penelitian tindakan kelas membutuhkan waktu yang tidak sebentar karena Bapak/Ibu harus bisa mengimplementasikan tindakan beserta variabel yang sudah dirancang untuk mencapai hasil yang dikehendaki. 


Tujuan Penelitian Tindakan Kelas

Adapun tujuan PTK adalah sebagai berikut.

  • Memperbaiki pola mengajar guru.
  • Memperbaiki perilaku peserta didik.
  • Meningkatkan dan memperbaiki praktik pembelajaran.
  • Mengubah kerangka kerja guru dalam mengajar sehingga terjadi peningkatan layanan profesional guru.
  • Manfaat Penelitian Tindakan Kelas


Manfaat Penelitian Tindakan Kelas

Dengan Menyusun PTK Bapak/Ibu akan diperoleh manfaat sebagai berikut.

  • Meningkatkan mutu dan kualitas pembelajaran di kelas.
  • Mengembangkan kinerja profesionalisme guru.
  • Melatih guru untuk menjadi problem solving andal.
  • Melatih kreatifitas guru.
  • Menumbuhkan rasa percaya diri guru.
  • Meningkatkan kualitas suatu instansi sekolah.


4 Langkah Menyusun PTK

Langkah-Langkah dan Sistematika Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Ada empat langkah yang harus dilakukan oleh seorang pendidik untuk dapat melaksanakan PTK, yakni sebagai berikut. 

1. Mengidentifikasi masalah dalam pembelajaran  

Identifikasi masalah dalam pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari berbagai perasaan ketidakpuasan yang dirasakan, dialami peserta didik dalam kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. 

Masalah pembelajaran juga muncul dari hasil refleksi pembelajaran yang diperoleh oleh pendidik. Ketika seorang pendidik merasakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan masih jauh dari memuaskan dan ada niat untuk memperbaikinya, itu berarti masalah penelitian sudah muncul dalam diri pendidik. 

Untuk maksud tersebut, Hopkins (1993) menyarankan adanya dorongan pikiran untuk fokus terhadap PTK yang dapat dikembangkan dengan bertanya kepada diri sendiri. 

Sebagai misal adalah (1) apa yang sedang terjadi?, (2) apakah hal yang terjadi itu merupakan masalah?, dan (3) apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.   B

ila pertanyaan lersebut ada dalam pikiran pendidik sebagai aktor PTK, langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan mengembangkan beberapa pernyataan atau pertanyaan berikut ini. 

 1. Saya berkeinginan memperbaiki ...

2. Berapa orangkah yang merasa kurang puas tentang ...

3. Saya dibingungkan oleh ...

4. Saya memilih untuk mengujicobakan di kelas saya gagasan tentang ... dst. 

Selanjutnya, pendidik dapat mengklasifikasikan masalah-masalah yang menjadi persoalan bagi pendidik yang harus diatasi melalui penelitian tindakan kelas. 

Masalah-masalah PTK tersebut dapat diidentifikasi atas :

(a) masalah yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, 

(b) masalah proses belajar-mengajar, 

(c) masalah pengembangan atau penggunaan sumber belajar, dan 

(d) masalah yang berkaitan dengan wahana peningkatan personal dan profesional  (Kunandar, 2013).  

Setelah identifikasi klasifikasi masalah penelitian, Kunandar (2013) merinci masalah PTK yang perlu dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan untuk:

(1) meningkatkan kegiatan  belajar-mengajar, 

(2) meningkatkan partisipasi  siswa dalam belajar, 

(3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 

(4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar.  


Masalah PTK yang dikaitkan dengan proses belajar-mengajar dapat dilakukan untuk: 

(1) menerapkan berbagai metode belajar, 

(2) mengembangkan kurikulum. 

Dengan demikian, identifikasi masalah PTK perlu menampilkan masalah yang perlu mendapat perhatian dalam usaha memperbaiki pembelajaran di sekolah. 


2. Merumuskan masalah dari hasil identifikasi masalah pembelajaran 

Langkah selanjutnya setelah mengidentifikasi masalah PTK adalah merumuskan masalah. Masalah PTK hendaknya dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional serta dikaitkan dengan pemilihan tindakan yang tepat. 

Dalam merumuskan masalah, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan berkaitan dengan aspek substansi, aspek orisinalitas, aspek formulasi, dan aspek teknis.     

Aspek substansi atau isi berkaitan dengan bobot atau nilai permasalahan, kegunaan, atau manfaat pemecahan masalah melalui tindakan yang telah lanjut. Aspek orisinalitas berkaitan dengan pertanyaan apakah pemecahan masalah dengan model tindakan merupakan hal yang baru. 

Aspek formulasi terkait dengan saran agar masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya. Aspek teknis berkaitan dengan kelayakan masalah dan kemampuan peneliti  atau pendidik dalam pelaksanaan penelitian  atau menyelesaikan masalah penelitian yang dipilih.    


3. Membuat Desain Penelitian Tindakan Kelas 

Agar proses penelitian dapat berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan, pembuatan desain PTK sangat diperlukan sebagai pedoman pelaksanaan penelitian.  

Desain penelitian dapat dikatakan sebagai rencana pelaksanaan penelitian yang disusun sedemikian rupa agar diperoleh solusi terhadap masalah penelitian. 

Secara umum, desain penelitian terdiri atas:

(a) pendahuluan, yaitu latar belakang, rumusan masalah atau tujuan penelitian, manfaat, ruang lingkup, dan definisi; dan 

(b) metode penelitian, yang terdiri atas pendekatan penelitian, kehadiran atau peran peneliti di lapangan, kancah penelitian, subjek penelitian, data dan sumber data,  pengumpulan data, serta analisis data, evaluasi dan refleksi.    

Selain itu, desain penelitian erat kaitannya dengan model penelitian yang dikembangkan.Salah satu model PTK yang banyak digunakan adalah Model Kemmis dan Mc Taggart (1997). 

Model tersebut terdiri atas tiga komponen, yaitu (a) rencana, (b) pengamatan/tindakan, dan (c) refleksi. 

Agar penelitian berjalan secara terarah dan teratur dalam proses yang panjang dan rumit, peneliti mengklasifikasikan pelaksanaan penelitian ke dalam empat siklus, yakni  pratindakan, siklus I, siklus II, dan siklus III.   


4. Menyusun Proposal Penelitian      

Secara umum, langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti sebelum melaksanakan penelitian adalah menyusun proposal penelitian. Penyusunan proposal PTK atau usulan penelitian merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti sebelum memulai kegiatan PTK. 

Proposal penelitian merupakan suatu pernyataan tertulis mengenai rencana atau rancangan kegiatan penelitian secara keseluruhan. Proposal penelitian berkaitan dengan pernyataan atas nilai pentingnya penelitian. 

Membuat proposal penelitian boleh jadi merupakan langkah yang paling sulit tetapi menyenangkan di dalam tahapan penelitian karena dapat membantu memberi arah pada peneliti agar bisa menekan kesalahan yang mungkin terjadi selama penelitian berlangsung.  

Proposal PTK harus dibuat sistematis dan logis sehingga dapat dijadikan pedoman yang mudah diikuti karena ia meruakan  gambaran terperinci tentang proses yang akan dilakukan peneliti atau pendidik untuk menyelesaikan masalah dalam pelaksanaan tugas pembelajaran di dalam kelas. Dalam membuat proposal PTK biasanya para pendidik  mengacu kepada format berikut.

Sumber: Modul PKB SMP Mapel B.Inggris KK J